Kenapa Namanya Diana?

Kenapa Namanya Diana?

Saat pertamakali mendengarkan lagu Koes Plus, saya tertarik setengah berpikir sambil kening mengerut hampir mempertemukan dua alis. Kenapa namanya Diana untuk seorang gadis puteri paman petani yang tinggal di gunung tinggi. 

Koes Plus menuliskan "Di gunung tinggi kutemui, gadis manis puteri paman petani. Cantik menarik menawan hati, Diana namanya manja sekali".

Kenapa harus Diana dan bukan Inah, Sulamah, Maemunah, Sarinah, dan nama-nama pedesaan lainnya. Nama-nama pedesaan yang kini mulai hilang terganti oleh nama-nama kota yang semakin sulit dieja. Mau bukti, mari kita cek nama anak-anak jaman sekarang yang panjang-panjang dan butuh berapa kali waktu untuk mengingat jelas nama terangnya. Untuk guru yang mengajar ditingkat dasar, pengalaman mengeja nama ini menjadi pengalaman yang sangat seru.
Kenapa Namanya Diana?
(Khairil Anwar)

Mari tanyakan sama guru-guru di sekolah yang semakin sulit mengeja satu persatu karena kerumitan nama dan pengaruh-pengaruh nama asing yang disematkan kepada nama lokal anak. Kesulitan di awal saja, setelah mengenal nama pendeknya sih mereka biasa lagi seperti sedia kala.

Ah, ada yang mengatakan itu trend yang sedang berlangsung dan lambat laun akan kembali berganti karena trend biasanya memiliki titik jenuh. Mungkin suatu saat orang akan kangen kembali memberi nama seperti Inah, Sulamah, Rokanah, Ruminah, dan lain-lain.

Tapi kenapa Diana? Ingin jelasnya tanyakan saja pada penulis lirik lagu tersebut. 

Related Posts:

Mengenal Konsep Sekolah Alam

Mengenal Konsep Sekolah Alam Dari Lendo Novo

Pagi itu di ruangan seminar The Cipaku Garden Hotel, saya mengikuti acara bertajuk Seminar dan Parenting. Temanya Konsep Sekolah Alam Berbasis Talent Mapping. Para pembicara yang terbilang mentereng, sebut saja Rama Royani, Lendo Novo, dan Eko Kurnianto. Mereka adalah pegiat pendidikan yang saya kenal. 

Lendo Novo adalah seorang konseptor Sekolah Alam. Ia merintis Sekolah Alam di Indonesia dengan pendekatan alternatif yang menarik. Hal yang menarik buat saya adalah ketika ia mengemukakan bahwa visi pendidikan sama dengan visi penciptaan manusia dan misi pendidikan sama dengan misi penciptaan manusia.

Ia menyampaikan contoh-contoh pendidikan dari Finlandia. Ah sudahlah, Finlandia dibahas di sana sini. Setiap ada seminar pendidikan selalu condong ke Finlandia. Pemerintah Indonesia juga selalu mengutip Finlandia dalam seminar, pelatihan, dan kegiatan pendidikan lainnya. Finlandia lagi Finlandia lagi! Pertanyaannya adalah praktik di lapangan sudah dilakukan belum? Pembuat kebijakan berani meniadakan Ujian Nasional tidak? Sekolah berani meniadakan PR tidak? Jika jawabannya masih iya, ya sudah jauh panggang dari api.

(Siswa SMA Sekolah Alam Bandung di Baduy)

Saya suka pemaparan tentang Maestro, sebuah konsep perkuliahan yang berdasarkan minat dan bakat anak. Anak diberikan kebebasan untuk menentukan bidang yang ingin dikembangkan. Dalam tayangan yang disampaikan, ada yang membuat bluethoot speaker, modifikasi motor, produser musik, dan masih banyak lagi.

Dalam kontek ini saya suka dengan konsep membangun merdeka belajar. Anak bebas memilih cara terbaik untuk belajarnya tanpa diintervensi oleh gurunya. Nah, untuk membangun budaya belajar merdeka ini ada hal yang mendasar harus dibangun oleh sekolahnya yaitu membangun guru merdeka belajar.

Guru diberikan kebebasan untuk berkarya dan yayasan memberikan keluasan dalam bentuk kepercayaan. Yayasan atau siapapun baik itu kepala sekolah atau ketua yayasan, patut memberikan kepercayaan yang besar kepada guru-gurunya. Ruang yang besar untuk guru dalam mengembangkan cara belajarnya secara langsung akan membikin suasana pembelajaran di kelas yang kondusif.

Sekolah Alam seperti yang dipaparkan Lendo Novo harus mampu mengembangkan cara-cara belajar yang sesuai dengan karakter anak. Bukan memaksakan konsep-konsep tapi tidak masuk dalam dunia anak. "Berikan saja waktu yang banyak, dunia anak itu dunianya bermain, ya sudah berikan waktu bermain maka anak akan belajar banyak" Kata Lendo Novo.

Di akhir, Lendo Novo menyampaikan sebuah hal yang tidak kalah penting. "Bahasa ibu! Ini harus dimiliki oleh para guru dimanapun" Kata Lendo yang kemudian menceritakan kisah Ibu Guru Thompson. Guru yang awalnya selalu memberikan nilai tidak baik pada seorang anak kemudian berubah drastis ketika mengetahui latar belakang. Anak yang ternyata tidak memiliki ibu, patah hati, dan butuh perhatian. Seketika itu ia mengubah pendekatan kepada anak tersebut. Seiring waktu, tumbuh kepercayaan diri, semangat belajar, dan motivasinya. Iapun bisa melewati fase-fase pendidikan sampai menikah.



Related Posts:

Pelatihan Memasang Baja Ringan

Pelatihan Memasang Baja Ringan

Pagi-pagi di Desa Sudalarang, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut terasa sangat sejuk. Sudah hampir seminggu tidak turun hujan. Beberapa orang sudah berkumpul di depan Balai Desa. 

Antusiasme muncul pagi itu, mereka akan belajar bersama-sama  memasang rangka atap baja ringan. Saya dan Nurcahya datang terlambat hampir satu jam. Keterlambatan yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Keterlambatan yang membuat saya memohon maaf kepada Lilis Widaningsih, dosen Arsitektur UPI yang tampak gelisah karena peserta sudah berdatangan sejak pagi.

Tidak menunggu lama, acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan dari Desa Sudalarang. Eka, pejabat desa mewakili Kepala Desa yang berhalangan hadir. Eka menyampaikan pesan-pesan kepada peserta agar belajar dengan baik selama pelatihan.
Pelatihan Memasang Rangka Atap Baja Ringan (iden.web.id)

Sampai pada acara utama, saya menjadi pembuka wacana tentang rangka atap baja ringan. Selepas itu dilanjutkan oleh Nurcahya sampai menjelang istirahat siang. Nurcahya menyampaikan detail-detail materi yang lengkap. Tentang material baja ringan, cara memilih, dan cara memasang.

Sesudah istirahat, praktik pemasangan dilakukan. Dibantu dua mentor dari ENKA Group, mereka mengarahkan peserta mulai dari cara membaca gambar, memotong material, menyambung, dan merangkai menjadi struktur rangka atap baja ringan yang kuat.

Kegiatan di Desa Sudalarang ini dihadiri juga oleh Sekretaris Jurusan Arsitektur, Nuryanto. Dalam sambutan akhir, Nuryanto menyampaikan "Semoga pengalaman selama mengikuti pelatihan singkat ini bisa berguna untuk warga saat membangun rangka atap dimanapun proyeknya. 

Hadir pula mahasiswa dari KMA Kridaya yang mengorganisir kegiatan. Nah, Pengabdian Kepada Masyarakat ini rutin dilakukan bekerjasama dengan Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur, Universitas Pendidikan Indonesia.

Ini rangkaian kegiatan memasang rangka atap baja ringan.
    Membaca gambar kemudian memotong sesuai ukuran

    Merangkai material baja ringan menjadi kuda-kuda

    Mendirikan kuda-kuda baja ringan

   Mengikat satu sama lain kuda-kuda agar kuat

   Mengikat kuda-kuda

   Memasang reng


Tahap evaluasi akhir





Related Posts:

Sisi Lain Film Critical Eleven

Sisi Lain Film Critical Eleven

Membangun keluarga yang baik itu penuh tantangan dan dinamika. Tidak semudah membalikan tangan. Butuh perjuangan yang sangat besar. Tentang meluluhkan ego, peka perasaan, keteguhan tekad, dan tetap berpikir positif pada apapun yang terjadi.

Keluarga yang kuat tidak dibangun keindahan saja tapi keindahan bisa membikin keluarga menjadi kuat. Terkadang ada hal yang sangat berat, tidak indah, tidak enak untuk dilewatinya. 

 Film critival eleven buat saya mengajarkan kita tentang dinamika keluarga seperti itu. Bukan cerita-cerita happy ever after, dari pacaran, terkena dinamika, lalu akhirnya menikah dan cerita selesai. 

Film Critical Eleven ini menjadi fenomena yang unik karena menceritakan kisah dua orang manusia sebelum menikah dan setelah menikah. Film ini merupakan dewasa yang lahir dari sineas Indonesia. Dewasa dalam alur cerita, pengemasan konflik, dan dinamika.
Sisi Lain Film Critical Eleven (iden.web.id)

Keluarga yang dibangun oleh seorang pekerja tambang dan wanita karier bukanlah sebuah hal yang mudah untuk dilewati. Untuk bisa membangun keutuhan di tengah segala tuntutan kerja, film ini cocok menggambarkan betapa semua hal yang berat itu bisa dilewati dengan baik. 

Nah, banyak sekali pembelajaran dari film Critical Eleven yang bisa kita ambil. Pembelajaran yang sangat penting untuk siapapun yang akan membangun keluarga, sedang berkeluarga, atau siapapun yang tertarik dengan kehidupan ini.



Related Posts:

Jangan Nonton Film Critical Eleven

Jangan Nonton Film Critical Eleven

Sejak awal saya menunggu film Critical Eleven dan menghentikan proses membaca menjelang akhir. Tujuannya hanya satu, ingin tahu endingnya lewat film. Itu saja!

Setidaknya ada beberapa hal yang saya sukai dari film Critical Eleven ini. Pertama cerita keluarga setelah menikah, yang keduanya adalah airport. 

Yang kedua ini harus punya catatan spesial dari saya. Bandara adalah sebuah tempat yang memiliki banyak cerita. Persis seperti yang diungkapkan oleh Ika Natasha sang penulis Critical Eleven lewat tokoh Tanya Baskoro. Bandara adalah tempat pertemuan dua rasa buat yang meninggalkan dan untuk yang ditinggalkan. Kenangan dan harapan yang bersatu dalam sebuah tempat. 

Pengeras suara yang memanggil penumpang, deru mesin pesawat, lalu lalang orang yang beraktivitas, etalase toko, tempat istirahat, tempat makan, dan pramugari yang baru datang atau akan berangkat kerja menjadi pemandangan indah. 

Walaupun hanya selintas menceritakan kisah di bandara tapi cukup untuk menjadi pengantar cerita yang asyik. Critical eleven seperti yang diceritakan sejatinya bukan kisah 3 menit pertama penerbangan dan 8 menit selanjutnya ketika mendarat. Jika melewati 11 menit tersebut, maka segalanya akan berjalan baik. 11 menit fase kritis ini sejatinya bukan menceritakan kisah pesawat terbang tapi lebih dalam dari hal itu adalah tentang kehidupan manusia.

Yah, ini tentang kehidupan dua orang manusia yang menjalin kasih, menikah, melewati dinamika berat dalam kehidupan rumah tangganya, dan berhasil melewatinya dengan baik. Happy ending! Yah, kisah ini berpihak kepada penonton. Tak rela jika ada yang bersedih sampai selesai film.

Dinamika yang naik turun berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. Untuk penonton dewasa, rasanya seperti naik roller coaster melihat dua manusia dalam film Critical Eleven ini. Lelaki akan terbawa oleh Aldebaran Risjad, sementara perempuan siapkan tisu secukupnya untuk mendalami perasaan Tanya Baskoro.

Jika anda tidak siap dan pernah mengalami trauma kehilangan, mending pikir dulu untuk menonton film ini. Reza Rahadian dan Adinia Wirasti tampil tanpa cacat. Mereka berdua all out memerankan tokoh sampai-sampai kita tidak sadar mereka itu hanya aktor dan aktris. Mereka tampil layaknya suami istri beneran yang berjuang mempertahankan pernikahan.

Nah, menarik bukan! Walaupun menarik, buat saya cukup sekali saja nonton film critical eleven ini. Cukup! [Iden Wildensyah]

Related Posts:

Stasiun Dan Engkau Yang Tak Kembali

Stasiun Dan Engkau Yang Tak Kembali

Selalu ada yang menarik ketika aku berada di stasiun kereta api. Tentang sebuah rasa yang pernah hinggap jauh sampai ke dalam. Tentang sebuah perpisahan yang sebenarnya tidak diinginkan. Membikin suasana yang tidak mengenakan untuk dia yang ditinggalkan dan dia yang meninggalkan. 

Suara klakson kereta yang datang dan pergi begitu menyayat hati. Panggilan dari menara untuk memanggil penumpang, memberitahukan jadwal, dan pengumuman-pengumuman lainnya tidak bisa mengalahkan kegundahan hati.

Ada sesal, ada kecewa, ada senang, ada gundah, semua menyatu di stasiun kereta. Kegundahan karena akan meninggalkan untuk waktu yang lama. Ah, kegundahan yang akan menjadi kerinduan di suatu hari yang akan datang. Bukan hari ini, karena hari ini bukan rindu! Tapi segumpal kesedihan yang bisa saja meledak tiba-tiba. 

Inilah kisah masa lalu, kisah yang tidak akan terjadi di masa depan karena engkau sudah pergi jauh dan tidak kembali ke stasiun kereta ini. Seperti janjimu yang akan menemuiku di kursi tempat menunggu tapi engkau tidak pernah kembali. 

Stasiun dan Engkau Yang Tak Kembali (iden.web.id)


Related Posts:

Angin Mengiringi Perlahan

Angin Mengiringi Perlahan

Apakah sebuah puisi, sajak, dan karya sastra lainnya lahir begitu saja? Tidak! Ia lahir lewat proses panjang penulisnya. Ia datang dari pergulatan batin, perenungan, dan proses penjiwaan yang matang hingga akhirnya mewujud sebuah karya. 

Angin mengiringi perlahan, saya ambil sebait karya Eka Wardana dari buku Sajak-Sajak Rindu. Judul lengkapnya Pelangi di halaman 41. Saya ambil sebagai judul tulisan ini karena perasaan saya jatuh pada salah satu kalimat itu.

Eka Wardana dan Hartati berkolaborasi membuat sebuah karya sastra yang sederhana tetapi maknanya sangat dalam. Saya diajak menyelami setiap bait-bait puisi yang indah. Ada yang membuat saya tersenyum, ada yang membuat saya haru, ada yang membuat saya juga bertanya-tanya. 

Alam menjadi pilihan yang menarik untuk mengungkapkan perasaan. Melihat keindahan alam yang puitis tidak bisa dilewatkan begitu saja oleh Eka, ia tangkap kemudian ia tuangkan keindahan tersebut dalam untaian kata-kata yang indah.

Keindahan lainnya bukan hanya pada peristiwa alami yang muncul setiap waktu dan terkadang lewat begitu saja, kejadian kecilpun bisa memberikan setitik keindahan. Sebut saja momen menunggu di halte, jalan di trotoar, dan hal remeh temeh yang seolah tidak penting tapi menjadi sangat menarik di tangan Eka Wardana. 

Mari kita lihat kesederhanaannya dalam sajak yang berjudul Dompet.

Dompet

ATM
SIM 
KTP 

Dua ribuan
Lima puluh ribuan
Seratus ribuan

Kuitansi
Faktur pajak
Slip gaji

Dompet kosong

Tinggal
ATM
SIM
KTP
Panik

Bogor, 3 Agustus 2016

Nah, ringan bukan? Tapi buat saya sangat dalam. Kejujuran yang terpancar pada sajak itu seolah mengajak saya untuk lebih dalam lagi melihat sisi-sisi lainnya.

Eka Wardana juga terinspirasi oleh beberapa penulis seperti Sapardi Joko Damono. Dalam salah satu sajaknya ia tuliskan bait-bait yang boleh dibilang mirip tetapi ia coba sajikan dalam bentuk yang lain. 

Perhatikan sajak yang berjudul Cinta Sederhana

Aku ingin mencintaimu sederhana
Seperti cintanya gunung dengan awan
Menjulang setara

Aku ingin mencintaimu sederhana
Seperti cintanya angin kepada air
Ia menghembuskan arus

Aku ingin mencintaimu sederhana
Seperti akar kepada tanah
Menjulur tak terhingga

Aku ingin mencintaimu sederhana 
Seperti ombak rindu pantai
Ia datang untuk mendekap

Aku ingin mencintaimu sederhana
Seperti kue klepon menuruti parutan kelapa
Nikmat lezat

Bogor, 14 Agustus 2016, 00.39



Lebih dalam lagi kita membaca di sana akan bertemu Hartati. Sedikit berbeda dengan Eka Wardana, ia menuangkan kerinduannya bukan sekadar kerinduan pada seorang manusia. Seperti dalam kisah Laila Majnun, kerinduan yang sebenarnya disampaikan sang pengagum bukan pada sosok manusia yang mewujud. Lebih dalam dari itu pada hakikat pencipta wujud itu sendiri, Tuhan. 

Lihat saja sebuah sajak yang berjudul Cinta dan Rindu.

Cinta dan Rindu

Pada siapa kutitipkan cinta
Cinta kutitipkan padaNya
Biarlah Dia yang menjagamu sampai saat yang tepat

Pada siapa kutitipkan rindu
Rindu kutitipkan padaNya
Biarlah Dia yang menyampaikan padamu pada saat yang tepat

Ya Allah, jagalah dia dengan sebaik-baik penjagaan
Jika memang Allah menakdirkan dirimu untukku
Dia akan membukakan jalan, memperkuat niat dan memberi kemudahan

Agustus 2016

Sampai pada akhirnya semua akan bermuara kepada pembaca. Pembacalah yang akan memberikan setiap kesan mendalam dari bait-bait yang disajikan dalam buku setebal 63 halaman ini.

Di tengah geliat puisi dikalangan anak muda yang terus berkembang, kehadiran buku kumpulan sajak ini tentu menjadi semacam pelepas dahaga akan buku-buku karya sastra yang berani muncul di tengah-tengah gempuran arus media baru (new media).  

Buku ini menarik untuk dikaji bersama-sama sebagai pembelajaran di sekolah-sekolah, studi group, dan tempat-tempat diskusi sastra lainnya. [Iden Wildensyah]


Related Posts:

Dan Kereta Api Berlalu

Dan Kereta Api Berlalu

Kereta Api tidak singgah lama di stasiun. Ia akan pergi setelah cukup waktu untuk menunggu. Tak perlu berlama-lama di satu tempat. Terkadang ada yang hanya dilewati begitu saja.

Tetapi ada juga yang menunggu lama. Tak peduli itu penumpang sudah ada atau tidak, ia terus menunggu. Kereta itu pasti setia.

Suara terompet yang memekik terasa sangat menyayat ketika ia hendak pergi. Ia benar-benar pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan dengan kejam tanpa ampun. Sesakit apapun engkau merasakannya, ia akan pergi.

Sakit yang menyesakan dada, membikin sulit bernapas. Engkau harus bisa bertahan ditinggalkan. Kereta melaju dengan tenang tanpa memikirkan perasaanmu. 
Dan Kereta Api Berlalu (iden.web.id)

Tak peduli dirimu yang terisak atau menahan agar bulir-bulir air tidak jatuh dari matamu. Ia tetap meninggalkan stasiun. Meninggalkan engkau yang mematung di ruang tunggu. Sulit menggerakan kaki untuk melangkah. Sulit mencerna bahwa kereta itu membawa pergi pujaan hatimu. Ia tidak akan perduli siapapun dirimu. 

Kereta itu memang kejam namun romantis. Ia menyisakan sedikit kenangan bersama seseorang yang ada di dalamnya. 

Kereta berlalu dan tidak perduli kamu!

Related Posts:

Seperti Naik Transjakarta

Seperti Naik Transjakarta

Hidup itu naik turun, ada saatnya di atas dan ada saatnya di bawah. Ritme! Yah inilah sebentuk ritme yang buat saya sangat menarik melihat sisi-sisi lainnya. Berpikir dan merasakan setiap fenomena yang terjadi.

Sudah berkali-kali saya lakukan jika ada kegiatan yang harus saya ikuti di Jakarta maka transjakarta adalah pilihan moda transportasinya. Transjakarta adalah moda transportasi masal yang asyik untuk kita gunakan.

Menjangkau satu tempat ke tempat lainnya dengan sangat mudah. Tinggal masuk haltenya, lalu ikuti semua jalurnya maka anda bisa langsung sampai ke tempat tujuan. Beli tiket (sekarang sudah menggunakan e-money) dan lihat jalur yang akan anda pakai. 

Jika harus transit, tinggal pindah lalu naik lagi. Demikian dan seterusnya sampai anda di tempat tujuan.
Seperti Naik Transjakarta (iden.web.id)

Seperti halnya hidup, naik transjakarta tidak seindah yang dituliskan di atas. Ada saatnya desak-desakan panas dan berebut masuk sampai sesak napas tetapi ada juga saat dimana semuanya begitu ringan, santai dan lengang. Napas tidak usah sesak saat memasuki bus, terasa ringan dan 'hampang' serta bersemangat.

Ayo kita nikmati hari ini dengan semangat sekalipun desak-desakan di waktu sore, pagi hari tetap menyediakan ruang yang luas untuk duduk santai, baca buku, dan melamun sesekali. 




Related Posts:

Perjalanan Ke Sayang Heulang

Sayang Heulang adalah sebuah pantai di selatan Jawa Barat. Jaraknya kurang lebih 100 km dari Bandung. Ke arah selatan melewati beberapa kota seperti Garut dan kota-kota kecil seperti Leles, Kadungora, Cikajang, Cisompet, dan Pameungpeuk.

Sayang Heulang berarti sarang elang. Tidak tahu darimana awalnya mulanya tetapi jika ditelusuri dari namanya, kemungkinan besar pada masa lalu terdapat banyak sarang elang di lokasi tersebut. Kalaupun tidak banyak, kemungkinan besarnya ada yang menemukan sarang elang tepat di lokasi pantai tersebut.

Hamparan karang yang datar di sepanjang pantai menjadi daya tawar tersendiri untuk para pengunjung. Ombak yang tertahan di tengah, kira-kira 100 m dari bibir pantai membuat pantai Sayang Heulang aman untuk dibuat arena bermain anak-anak. 

Ada yang berenang, main pelampung, kejar-kejaran, lihat ikan-ikan kecil di antara karang, dan masih banyak lagi kegiatan menarik yang bisa dilakukan bersama keluarga di sekitar pantai Sayang Heulang. Kalau sedang musim liburan, banyak yang menyewakan pelampung. Harga sewa yang ramah dikantong akan membuat liburan anda semakin menyenangkan.



Jika memiliki waktu yang banyak, anda bisa menginap di wilayah pantai Sayang Heulang. Tidak bawa tenda, jangan khawatir karena sepanjang bibir pantai tersedia banyak penginapan dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp200.000,- sampai Rp300.000,- per malam dengan fasilitas yang berbeda-beda tentunya.

Untuk yang mau merasakan udara malam dan bintang-bintang di langit saat malam hari, ada baiknya anda siapkan tenda. Di Sayang Heulang sudah tersedia lapangan rumpu hijau. Di sana anda tinggal dirikan tenda lalu nikmati keindahan malam.



Bangun pagi hari, anda akan disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan. Sunrise! Ah sudahlah sulit dituliskan kata-kata kalau sudah melihat keindahannya. Sebelum sunrise, jika anda datang sore hari maka keindahan pesona matahari terbenam akan anda dapatkan. Jangan lupa bawa kamera lalu tangkap moment indah tersebut.

Nah, sangat menarik bukan? Ayo kunjungi pantai Sayang Heulang di Pameungpeuk, Garut Selatan, Jawa Barat.

(Semua Foto dalam catatan ini oleh Iden Wildensyah)

Related Posts:

Mengapresiasi Seni Dimana Saja

Saya senang mengapresiasi seniman darimanapun lebih karena proses kreatif mereka membuat saya merasa tidak menjadi siapapun. Karya mereka memberikan dimensi yang menarik untuk berpikir, merasakan, dan memampukan tekad kuat untuk berkarya membuat sesuatu.

Yah, apapun jenis karyanya, di manapun karya tersebut dipajang, saya selalu menyukainya. Sekalipun itu untuk sebagian disebut sebagai vandalisme, corat coret tak jelas, dan penilaian negatif lainnya.

Sebut saja karya seni yang saya temui tanpa sengaja di dinding Dago Pojok. Sebuah kolase penuh pesan-pesan yang menarik! Pesan tentang apapun termasuk tentang sebuah impian, curhatan, dan lain-lain. 

Inilah beberapa karya seni yang berhasil saya tangkap








Seniman! Selalu asyik bukan? Yah, itulah kenapa saya sangat terinspirasi oleh seniman-seniman di manapun, kapanpun, siapapun!

Related Posts:

Menjadi Guru Merdeka Belajar

"Pendidikan itu, menajamkan pikiran, menghaluskan perasaan, dan menguatkan kehendak" (Tan Malaka) 

Guru merdeka! Dua kata ini menarik perhatian saya pada sebuah pelatihan. Pertanyaan-pertanyaan mendasar kemudian bermunculan dalam kepala ini. 

Apa itu guru merdeka? Kenapa guru merdeka, apakah selama ini guru tidak merdeka? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan penting pada konteks guru merdeka ini.

Baiklah, kita coba kesampingkan dulu pertanyaan. Saya ingin melihat sebuah buku menarik tentang menjadi manusia merdeka karya Ki Hadjar Dewantara, bukunya Tan Malaka, lalu tema serupa dari buku-buku Rudolf Steiner, serta buku-buku pendidikan alternatif lainnya seperti Paulo Preire. Buku-buku tersebut fokus utamanya kepada kemerdekaan menjadi manusia. 

Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan, ia tidak lagi dijajah oleh pihak manapun dari luar dirinya. Ia merdeka untuk berkehendak, merdeka untuk berpikir, dan merdeka untuk merasakan apapun. Kemerdekaan ini nyatanya sulit didapatkan. Banyak pihak-pihak yang tidak menghendaki manusia menjadi merdeka karena mereka masih membutuhkan kehadiran manusia tidak merdeka untuk kepentingannya. 


Pendidikan untuk memanusiakan manusia sering kita dengar tetapi tak banyak yang tahu bagaimana implementasi memanusiakan manusia dalam kurikulum pendidikan dan kegiatan sehari-harinya di sekolah. Banyak guru yang terjebak hanya di kuadran 'tahu' saja konsep memanusiakan manusia tersebut. Sisanya, guru-guru yang terus menempa diri, belajar ke sana ke mari, mengkaji berbagai buku tentang pendidikan dari pemikir-pemikir pendidikan di masa lalu. Sebagian kecil ini menjadi guru merdeka yang paham dan mampu mengimplementasikan konsep memanusiakan manusia lewat kegiatan di dalam kelas bersama anak didiknya.

Guru-guru merdeka terkadang menjadi minorias di dalam sebuah komunitas sekolah. Menjadi berbeda dalam mengolah pembelajaran, dan selalu berusaha membuat konkret setiap konsep pembelajaran merdeka lewat praktik-praktik kecil di kelas yang dikelolanya.

Walaupun minoritas, percayalah di luar komunitas yang tidak merdeka, guru merdeka belajar mendapatkan banyak dukungan dari komunitas peduli pendidikan alternatif lainnya.

Menarik, bukan? Yah, menjadi guru merdeka untuk mendidik anak merdeka. Selamat hari pendidikan nasional!


Related Posts:

Keseruan Big Bad Wolf Books Indonesia

Pagi-pagi meluncur dari Bandung menuju Jakarta. Jalanan lengang karena masih jarang pengendara lain. Mobil pribadi masih pada bersiap berangkat. 

Di jalanan hanya truk besar pengangkut barang, kontainer, serta beberapa bus luar kota yang hendak memasuki Jakarta. 

Cuaca cerah, angin sepoi-sepoi, dan menjelang siang matahari muncul dari Timur. Mengendap-endap seperti mencari celah agar hanya terlihat oleh manusia yang bangun dini hari dan masih bertahan sampai siang.

Sesekali saya tengok ke arah kaca spion kemunculan matahari tersebut sambil terus memacu kendaraan melewati jalur lingkar luar menuju Bumi Serpong Damai (BSD). Keluar dari jalanan berbayar lalu terus lurus menuju lokasi di Indonesia Convention Exhibition (ICE). 

Tidak menemukan kesulitan berarti karena jalanan sangat lengang. Dalam beberapa menit sudah berada di lokasi parkir gedung yang megah. Parkir yang luas dan membingungkan saat pertamakali hendak memasukinya. Beberapa kendaraan parkir di luar gedung tepatnya di pinggir jalan raya, sisanya berada di lokasi semestinya.

Memasuki hall gedung yang besar langsung takjub pada kemegahan konstruksi bangunan. Dari depan, petugas sudah menyambut kehadiran pengunjung. Tanpa tiket, saya langsung memburu buku-buku yang dipamerkan diajang tahunan Big Bad Wolf Books Indonesia ini. Buku-buku impor yang harganya melambung jika beli di toko buku Indonesia menjadi terjun bebas karena potongan harga yang aduhai.

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Buku-buku yang tidak beredar banyak, langsung saya amankan. Buku-buku desain, arsitektur, anak-anak, humaniora, dan crafting adalah tujuan utama. Buku-buku tersebut sangat jarang dan sekalipun ada harganya bisa sangat mahal.

Berbagai jenis buku terpampang jelas lewat kategori yang ditempatkan di beberapa lokasi. Buku gambar, buku teknik, buku crafting, tutorial, dan masih banyak lagi jenis yang ada di Big Bad Wolf Book Indonesia tersebut.

Inilah keseruan suasana di Big Bad Wolf Book yang dilaksakan sampai 2 Mei 2017 wajib dikunjungi oleh pecinta buku, kutu buku, buku maniak, dan siapapun!

Buku target!

Suasana di dalam yang masih lengang

Pengunjung!

Selfie area :)

Oh senangnya!

Related Posts: