Pagi, Menulis, dan Anjing

Tentang Pagi di Selatan Yang Cekatan 


Tanpa disadari menangkap matahari pagi itu seolah menjadi keharusan. Ada rasa sayang jika melewatkan setiap keindahan walau hanya beberapa menit saja. 


Di Selatan yang cekatan. Pagi hari sudah riuh rendah. Kehangatan pagi berbaur dengan kesibukan ini itu di sana di situ. 


Di Utara yang terhalang pohon dan gunung yang menjulang, pagi hari terasa berat membuka mata. Ingin rasanya sekejap lagi menikmati hangat selimut. 


Tapi hari tak bisa menunggu. Waktu tak bisa diulur. Bergegas! Siapkan pikiranmu, siapkan hatimu, gerakan tangan dan kakimu untuk hari ini.


Tentang Menulis, Blog, dan Anjing


Saya tidak suka menulis diburu-buru kecuali ada deadline artikel yang kudu dikejar. Itu lain cerita. Jika ada ide buat menulis, ya saya tuliskan saja mengalir semengalir-ngalirnya. Setelah itu posting diblog kalau sekiranya pas buat posting diblog atau dimedia orang lain.


Saya tidak peduli blog saya mencapai rating pengunjung tinggi atau rendah. Satu atau dua orang yang membaca sudah cukup buat saya tetap menulis. Terlebih, saya tercekat ketika seseorang mengirimkan pesan kala blog sedang kering tulisannya alias tidak ada cerita baru. "Kok gak ada tulisanmu lagi! Aku masih sering berkunjung keblogmu!" 


"Anjing! Ternyata ada yang baca tulisan saya!" Teriak saya pada seekor anjing yang menatap nanar seperti mengharapkan sepotong daging. Lalu saya lemparkan sepotong paha ayam. Matanya berbinar, ekornya dikibas-kibaskan!


"Guk guk guk!" 





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pagi, Menulis, dan Anjing"

Posting Komentar