2 Surat Untuk Puan

Surat pertama
Aku ingin membawakan matahari pagi ini ke pangkuan puan. Aku bungkus dalam tas atau kuselipkan saja ke dalam ransel. Biarlah berdesakan dengan  pakaian ganti, tenda, kompor, dan sisa makanan semalam asal sampai di tanganmu. Namun apa daya, di saat itu banyak yang juga berharap sama. Jadi kuurungkan saja mengantongi mataharinya. 
Mungkin nanti bisa kucoba untuk membawakanmu bulan purnama.




Surat kedua
Puan, kamu tahu setiap kali aku melihat perahu di pagi hari, bayangku selalu melayang kepada lelaki tua dalam cerita Ernest Hemingway. Kisah tragis tapi penuh makna. Kadang kita tidak bisa mengelak dari takdir tapi kita bisa memilih untuk terus berjuang. Lelaki tua itu mengajarkan kehidupan yang pantang untuk menyerah pada kenyataan yang terjadi. 
Puan, dalam kisah itu Hemingway membawakan cerita tentang kehidupan di pesisir pantai. Ia berkisah tentang kehidupan seorang nelayan bersama anak kecil. Hemingway membawakan kisah ini dengan santai dan menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami sehingga sangat mudah untuk mengkuti alur cerita novel ini.
Puan, judulnya The Old Man and The Sea. Membaca buku itu membuat aku seperti merasakan suasana yang ada. Ia mengajak untuk langsung ikut bertualang di luasnya samudra sambil berjuang mendapatkan ikan marlin raksasa. 
Lelaki tua dalam cerita itu bernama Santiago. Ia lelaki yang pantang menyerah. Dia adalah sesosok pria yang bisa dijadikan contoh bahwa yang namanya umur bukan menjadi suatu halangan. Ia mengajarkan banyak hal tentang keberanian, kepandaian, keikhlasan dan ketekunan.
Puan! Itu ceritaku. Sudahkah kau simpan cerita hari ini atau kemarin untuk esok? Simpan saja karena suatu hari kita akan menertawakan sekaligus merindukan hari ini.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "2 Surat Untuk Puan"

Posting Komentar