Mengapresiasi Transformasi Kereta Api Indonesia

"The train you have been waiting all your life may not stop at your station; the best thing to survive such an emotional disaster is to give a chance to the next train which Will stop at your station!" (Mehmet Murat Ilsan)

Kereta Api Dahulu

Jika ada satu lembaga yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk melakukan transformasi dan sukses, PT KAI adalah contoh kongkrit. Saya menggunakan jasa PT KAI sejak zaman mahasiswa untuk pulang pergi ke Yogyakarta. Kereta Api kelas ekonomi adalah pilihan terbaik saat itu. Kondisinya jauh berbeda dengan kelas ekonomi sekarang. 

Kala itu seorang teman berpesan jika naik kereta ekonomi terutama yang berangkat malam hari dari Bandung, harus ekstra hati-hati dalam membawa barang-barang. Banyak copet dan juga gangguan lain. 
Pesan itu sangat terpatri kuat sehingga kehati-hatian menjadi hal yang utama. Belum lagi pedagang asongan tiap kali kereta berhenti di stasiun. Kereta ekonomi selalu berhenti untuk memberi kesempatan pada kereta kelas bisnis dan eksekutif untuk melaju terlebih dahulu atau bersilangan di jalur perjalanan kereta. 

Saat itu, bukan hanya pengamen yang akan masuk tapi juga jasa bersih-bersih tempat duduk. Bawa sapu kecil dan tong sampah lalu meminta uang pada penumpang yang duduk. Jika diamati, kadang cara mereka kasar juga. Membangunkan penumpang yang sedang tidur sambil menyodorkan kaleng atau kotak uang. Beberapa teman mengatakan di antara mereka juga ada yang menyambi sebagai penyolong. Kalau kebetulan ada barang berharga yang tergelatak dan si empunya tidak sadar karena tidur, mereka tidak segan untuk mengambil. 




Pedagang yang masuk gerbong kereta tidak kalah rame dan menarik. Kalau sudah terdengar sahutan-sahutan seperti nasi pecel - nasi pecel, berarti sudah memasuki wilayah Jawa Tengah. Atau misalnya sudah terdengar, "getuk-getuk, bakpia, lumpia" ya berarti sudah sampai Yogyakarta. Sementara kalau terdengar "nasi kuning, nasi kuning" dengan logat Sunda, berarti sudah masuk wilayah Jawa Barat, mulai dari Banjar, Tasikmalaya, dan Cibatu. Udara udah terasa dingin dan kereta mulai melambat karena jalur meliuk-liuk melewati bukit menuju Bandung.




Kereta Api Sekarang

Itu cerita dulu, sekarang sudah berubah 180 derajat. Perubahan yang sangat signifikan dari berbagai sisi. Misalnya pengelolaan tiket, pengelolaan stasiun, pengelolaan jadwal, dan pengelolaan sumber daya yang berhasil ditransformasikan oleh manajemen PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). 




Banyak sekali kemajuan yang akhirnya diraih karena berhasil membangun kebiasaan baru di lingkungan kereta api. Sebagai pengguna kereta, saya melihat dari sisi penumpang. Kenyamanan penumpang terjamin dengan baik. Tidak ada lagi penumpukan penumpang di dalam kereta. Tidak ada lagi pemaksaan penumpang ketika jumlah kursi yang terjual sudah habis. 




Kenapa pantas diapresiasi karena ini sangat penting dijadikan tolok ukur bagi lembaga manapun yang ingin sebuah perubahan dalam organisasi. Tidak sekadar mengubah logo kemudian berharap berubah segala nilai-nilai yang ada di dalamnya. Perubahan budaya kerja di dalam sebuah organisasi mutlak dilakukan jika tidak mau terjebak dalam stagnasi. 





Kereta Api kini sekalipun kelas ekonomi menunjukkan kenyamanan buat penumpang. Di dalamnya tidak lagi terasa panas karena tersedia AC. Walaupun tempat duduk masih sama seperti kereta api di masa lalu. Namun sejauh ini, karena penumpang tidak dipaksa masuk diluar kuota yang ada, alhasil penumpang di dalam tetap nyaman. 

Semoga saja perubahan di Kereta Api Indonesia ini menjadi inspirasi bagi lembaga lain yang mengutamakan pelayanan prima untuk warga Indonesia di mana pun adanya. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengapresiasi Transformasi Kereta Api Indonesia"

Posting Komentar