Orang Dewasa Harus Berhenti Merundung

"In raising children, we need to continuously keep in mind how we can best create the most favorable environment for their imitative behavior. Everything done in the past regarding imitation must become more and more conscious and more and more consciously connected with the future". (Rudolf Steiner)

Saya tertarik menulis ini setelah Zaky Yamani seorang jurnalis di Bandung menulis dalam status Facebooknya "Kalau ada anak-anak sok jago karena merasa punya orang tua berpengaruh, pasti mereka mencontoh orang tuanya. Mungkin mereka tidak diajarkan langsung, tapi mereka pasti melihat perilaku orang tuanya."

Kasus yang terjadi di Pontianak -tanpa harus saya tuliskan kembali- adalah hal yang sangat mengerikan untuk kondisi pendidikan di Indonesia. Pendidikan seolah telah kehilangan ruhnya. Pendidikan menjadi tidak bermakna ketika pelajar menjadi brutal sedemikian rupa di luar sekolah.

Saya masih ingat dan akan terus saya sampaikan kepada peserta didik bahwa seorang guru itu lebih bangga melihat alumni yang menjadi penyapu jalan dan ia sangat menikmatinya dibandingkan menjadi sarjana yang korupsi, psikopat, dan segala label tidak baik lainnya.

Segala tindakan dan tujuan pendidikan diarahkan pada cita-cita membentuk manusia seutuhnya. Jalannya dengan kebaikan, cinta, dan kasih sayang kepada semua. Guru dan orang tua menjadi teladan yang baik untuk anak-anak didiknya. Masalahnya kadang tidak singkron antara cita-cita visi guru dengan orang tua. Ada orang tua yang inginnya instan, cepat, dan langsung terasa. Padahal pendidikan adalah proses panjang yang hasilnya baru akan terasa beberapa tahun kemudian. Bisa belasan tahun atau puluhan tahun baru kerasa hasilnya oleh anak.

Pendidikan anak di sekolah tidak akan lepas dari pendidikan utama di rumah. Rumah sebagai jangkar utama pendidikan tidak bisa begitu saja melepaskan tanggung jawab pendidikan kepada sekolah dengan alasan sudah membayar uang sekolah. Teladan orang tua, akan sangat mempengaruhi perilaku anak di luar rumah.

Saya mendapati proses selaras antara pendidikan di rumah dengan pendidikan di sekolah -walau sejatinya pendidikan tidak mengenal ruang, tempat, dan waktu- akan menghasilkan anak yang mampu berproses dengan baik kala ia bersosialisasi di sekolah.

Sebaliknya, jika proses di rumah tidak selaras maka butuh perjuangan untuk membekali anak berproses di lingkungan luar sekolahnya. Anak adalah gambaran orang tua. Harap dicatat, segala perilaku anak di sekolah adalah gambaran dari rumah. Anak yang berada dalam lingkungan keluarga yang rajin, kreatif, mendidik dengan hati maka ia akan menampilkan hal demikian di sekolah. Jika orang tua senang membaca, maka anak bisa dipastikan senang dengan kegiatan membaca.

Miris ketika saya mendapati orang tua yang masih belum menyadari bahwa segala tindak tanduknya ditiru anak. Misalnya, perilaku di jalan, perilaku di rumah makan atau restoran, perilaku dia bersama saudara lain. Orang tua yang membawa mobil, mengantarkan anak-anak dengan kendaraan harus sadar bahwa segala ucap, perilaku di jalan raya akan sangat ditiru oleh anak-anak. Orang tua yang suka marah-marah karena kemacetan, jangan kaget jika kelak anaknya akan marah-marah Dengan topik yang sama kala mengalami kemacetan.

Perilaku di restoran juga harap diperhatikan. Anak adalah peniru ulung. Orang tua yang sering (catat sering) komplain dengan pelayan misalnya karena hal-hal sepele, menggerutu karena makanan telat, makanan gak enak, makanan kurang ini itu, bersiaplah suatu hari anak akan melakukan hal yang sama persis.

Pada kasus di Pontianak, sebagai orang tua, sebagai guru, sebagai pendidik, sudah selayaknya kita bertanya pada diri sendiri. Jangan-jangan ada perilaku kita yang ditiru oleh mereka sehingga mereka melakukan seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya. Nyinyir di media sosial, perang kicauan, melemparkan sinis pada yang lain tanpa sebab, dan segala hal tidak patut dalam bersosialisasi di dunia Maya atau pun di dunia nyata.

Tentang Bahaya Perundungan

Suatu penelitian yang dilansir dari Medical News Today mengungkapkan bahwa perundungan akan berdampak pada kesehatan si korban.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Molecular Psychiatry juga menunjukkan perundungan dapat menyebabkan perubahan fisik di otak dan meningkatkan kemungkinan penyakit mental.

Hasil dari penelitian yang dipimpin oleh Erin Burke Quinlan, dari King's College London di Inggris, perundungan yang parah dikaitkan dengan perubahan volume otak dan tingkat kecemasan pada usia 19 tahun.

Korban perundungan juga bisa mengalami pengurangan volume bagian otak yang disebut kaudat dan putamen.

Di sisi lain, seseorang yang suka merundung juga dianggap mempunyai gangguan kesehatan mental.

Melansir psychcentral.com, sebuah studi dari Brown Univerity dan dipresentasikan dalam American Academy of Pediatrics menujukkan, mereka yang dianggap pengganggu (perundung) lebih dari 2 kali lebih mungkin mengalami depresi, kecemasan dan gangguan kurangnya perhatian (ADD atau ADHD ).

Dalam studi tersebut juga menunjukkan pelaku perundungan enam kali lebih mungkin didiagnosis dengan gangguan oppositional defiant (ODD) ditandai oleh episode kemarahan dan permusuhan yang berkelanjutan.

"Studi ini memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang profil risiko pelaku intimidasi," kata Dr. Stefani Hines, direktur pusat pengembangan manusia di Rumah Sakit Anak Beaumont di Royal Oak, Mich, seperti yang dilansir dari abcnews.go.com.

Temuan itu tidak mengejutkan banyak ahli, yang mengatakan gejala gangguan ini menjadi ciri banyak pengganggu.

Menurut Alan Hilfer, kepala psikolog di Maimonedes Medical Center di Brooklyn, New York, pengganggu sering melanjutkan siklus pelecehan sosial yang telah mereka alami sendiri.

"Mereka bisa tertekan, takut, dan mereka sering mengeluarkan kemarahan dan frustrasi mereka pada orang lain dalam ungkapan kekuasaan," kata Hilfer.

Bagaimanapun, mengawal kasus ini menjadi kewajiban kita semua, tapi jangan sampai kita juga melakukan perundungan kepada pelaku sebagai pelampiasan emosi. Stop lingkaran perundungan sampai di sini! (Diolah dari berbagai sumber)

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Orang Dewasa Harus Berhenti Merundung"

  1. Bener banget tuh, dulu juga pengen banget seperti ayah ataupun ibu... Selalu senang, tertawa, bahagia, bahkan sampai ke pekerjaannya pun saya ingin seperti mereka.. Tapi mulai beranjak dewasa, masuk ke SD, SMP, SMA, hingga saat ini kuliah diajaarkan bagaimana mengelola sesuatu mulai dari tindakan mana yang jahat atau tidak... Sebenarnya dari orang tua mungkin sudah mengajarkan yang dan jahat ataupun disekolah juga pasti mengajarkan hal itu, tapi perlakuan atau perbuatan seperti itu busa jadi faktor lingkungan entah itu teman, sahabat, ataupun pasangan.. Yahh, demi teman saya melakukan hal itu, bisa dilihat dari berbagai perspektif sih :D

    BalasHapus
  2. terpenting itu pendidikan di rumah , hal yg pertama dilihat anak2 ya di rumah, bila di rumah baik tentu keluar akan baik juga

    BalasHapus